Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Friday, February 25, 2022

Pengalaman Terkena Omicron

Foto oleh Karolina Grabowska dari Pexels

 

Halo halo.. Apa kabar semuanya? Aku do'a kan semoga semuanya sehat dan baik-baik saja ya..

Tulisan kali ini aku mau cerita pengalaman aku terkena Covid-19 variant Omicron.

Kejadian awalnya sekitar tanggal 28 Januari 2022 bertepatan dengan hari Jumat. Kebetulan pada hari itu aku sedang jadwal masuk kerja. Sebagai informasi, kebetulan tempat kerjaku menjalani aturan selang seling antara Work From Office (WFO) dan Work From Home (WFH) dan saat itu aku sedang shift WFO.

Sekitar jam 4 sore, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja aku merasa kurang enak badan seperti masuk angin. Perut kembung dan sedikit enek. Tentu saja aku langsung berpikir kalau mungkin aku sedang masuk angin. Oleh karena itu aku langsung minum T#lak angin yang aku minta dari temanku.

Sedikit cerita juga, beberapa hari ke belakang ada 2 orang yang terpapar Covid-19 di tempat kerjaku. Merekapun pada saat itu langsung melakukan isolasi mandiri. Awalnya aku sempat kepikiran parno sih, tapi kalau di ingat-ingat aku tidak pernah kontak dengan orang-orang tersebut. Posisi duduknya juga berjauhan. Hanya saja kami memang satu ruangan dan berada pada sistem sirkulasi udara yang sama.

Kembali ke hari Jumat tadi, aku pulang kerja sekitar habis magrib. Kondisi badanku saat itu masih merasa perut kembung dan sedikit enek walaupun sebelumnya sudah minum T#lak angin. Sesampainya di kosan, aku membuat minuman rempah-rempah dan mandi dengan air hangat lalu membalurkan kayu putih di perutku. Lumayan terasa lebih baik dan akhirnya tidur dengan tenang.

Pada hari Sabtu pagi, saat bangun tidur aku merasa tenggorokan agak sedikit kering. Mungkin memang aku kurang minum saja pikirku. Akupun minum air putih dan langsung membuat lagi minuman rempah-rempah. Perasaan masuk angin sebenarnya sudah tidak ada, hanya saja rasa kering di tenggorokan ku masih terasa seharian, walau samar-samar. Tidak menimbulkan sakit saat menelan. Hanya benar-benar terasa kering seperti kurang minum saja. Aku menjalani kegiatan weekend seperti biasanya, cuci baju, bersih-bersih, masak, rebahan. sama sekali tidak pergi kemana-mana.

Hari Minggu sore, aku membeli air kelapa hijau dan makan dengan lahap seperti biasa walau rasa kering di tenggorokan masih saja awet. Saat aku tidur malam, tiba-tiba aku terbangun sekitar jam 1 malam dan merasakan badanku meriang, berkeringat dingin dan perut sangat mual. Akupun langsung bangun dari tempat tidur dan menuju toilet. Tanpa bisa ditahan lagi, saat itu aku muntah dan badan gemeteran. Masih saja aku gak berpikir aneh-aneh, karena memang kejadian seperti itu pernah juga aku alamin dulu karena kecapean. Ku minum air putih hangat dan mencoba membalur minyak kayu putih lalu tidur kembali.

Hari Senin, kebetulan aku shift WFO lagi. Aku berangkat ke tempat kerja dengan kondisi badan yang sebetulnya kurang fit, tapi gak parah. Jadi masih bisa menjalani kegiatan seperti biasanya.

Hari Selasa, syukurnya aku shift WFH, senang rasanya jadi bisa sambil istirahat. Aku juga sempat konsultasi dengan dokter secara online dan diresepkan beberapa obat seperti obat radang, antibiotik anti mual, dan paracetamol karena saat itu aku sudah merasa sedikit ada demam dan pusing. Disaat matahari sedang cerah, aku menyempatkan untuk berolah raga ringan di rooftop sambil berjemur sinar matahari.

Hari Rabu, aku masuk kerja dengan kondisi yang hampir normal-normal saja. Demam dan pusing tidak terasa mungkin karena ada pengaruh obat juga. Hanya rasa kering ditenggorokan masih awet. Ditempat kerja, aku mencoba untuk menjauh dari orang-orang karena memang hati kecilku merasa ada yang tidak beres. Tapi saat itu aku belum berani untuk melakukan tes Covid-19.

Hari Kamis aku shift masuk kerja lagi. Aku berangkat kerja dengan perasaan yang tidak nyaman. Akhirnya sebelum sampai ke tempat kerja, aku memberanikan diri untuk mampir ke laboratorium terdekat dan melakukan tes antigen. Memang sih kesannya lama banget ya aku menunda tes dari saat aku merasa kurang enak badan. Tapi memang gejalanya itu naik turun dan tidak parah sehingga aku tetap berpikir positif kalau memang sedang kurang enak badan biasa saja dan tadinya berharap akan sembuh sendiri dalam waktu dekat.

Setelah aku tes antigen di laboratorium, aku pun melanjutkan berangkat ke tempat kerja. Sesampainya di tempat kerja, tiba-tiba ada pesan whats#pp masuk dari laboratorium yang memberitahukan hasil tes antigen ku yang ternyata Positif Covid-19. Tanpa berpikir panjang aku langsung pergi keluar dari tempat kerja dan menelpon atasan dan teman kerjaku. Saat itu aku langsung diminta untuk pulang dan kembali ke laboratorium yang tadi dan melakukan tes PCR. 

Perasaanku saat itu lumayan panik, takut, dan mencoba beberapa kali menenangkan diri dan mensugestikan untuk tetap tenang dan menganggap seperti flu biasa saja. Aku juga flashback memikirkan riwayat perjalanan dan interaksiku beberapa waktu terakhir. Tapi rasanya tidak ada kontak atau riwayat perjalanan, kecuali hanya ke tempat kerja. Prokes juga selalu kujalankan dengan cukup baik. Palingan hanya membuka masker saat sedang makan saja. Vaksin sudah 2 dosis.

Setelah menunggu 8 jam di kosan, akhirnya datang juga hasil PCR ku yang dikirim melalui whats#pp. Hasilnya Positive Covid-19. Untung saja CT Value nya cukup tinggi. Temanku bilang mungkin saja kalau misalkan aku tidak tes dan diam-diam saja, ya mungkin aku udah akan sembuh dengan sendirinya dan ga ada orang yang tau juga. Wkwk. Tapi tetap lebih baik kita tau status kita untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak diharapkan dan juga agar semua orang yang dekat dengan kita tidak ikut tertular.

Sebagai informasi tambahan, CT Value yang tinggi itu menandakan kalau tingkat infeksi virus di tubuh kita itu tidak terlalu parah dan bahkan mungkin tidak berpotensi untuk menularkan ke orang lain karena jumlah virusnya sedikit. Lain halnya kalau CT Value yang rendah tandanya tingkat infeksi virus ditubuh kita itu sangat perlu di waspadai dan berpotensi menularkan ke orang lain karena ibaratnya kuantitas virusnya juga banyak. Itu sepemahamanku ya, mohon dikoreksi kalau misalnya kurang tepat.

Dengan adanya hasil PCR yang positif, akupun otomatis menjalani isolasi mandiri. Untungnya aku tinggal sendiri jadi gak ribet kalau masalah isolasi dan memang orangnya jarang sosialiasi sama tetangga juga jadi bagiku mudah saja menjalani isolasi mandiri ini. Terlebih gejala sakitnya juga tidak terlalu parah. Persis seperti batuk pilek saja dan pusing yang kadang muncul kadang hilang. Kalau suhu tubuh sih normal. Tapi kalau malam seringnya keringat dingin sampai basah oleh keringat seperti orang habis olah raga.

Sistem di negeri ini lumayan bagus lho. Jadi hasil PCR ku itu udah langsung terhubung ke pusat data Kemenkes. Hal ini dibuktikan dengan adanya pesan whats#pp dari Kemenkes yang memberitahukan kalau NIK atas nama ku termasuk sebagai pasien positif Covid-19. Dalam pesan itu, ada beberapa panduan yang diberikan. Salah satunya adalah layanan telemedicine yang biayanya ditanggung pemerintah. Jadi kita diminta untuk konsultasi dengan dokter secara online pada aplikasi-aplikasi kesehatan yang linknya tercantum dalam pesan Kemenkes itu. Kita bisa memilih 1 aplikasi yang kita mau gunakan. Kebetulan saat itu aku memilih aplikasi H#lodoc karena memang aku sudah biasa memakai aplikasi itu.

Dalam sesi konsultasi dengan dokter, kita diminta untuk mengatakan bahwasannya kita adalah pasien positive Covid-19 dan sudah mendapat pesan dari Kemenkes. Setelah itu dokter pun menanyakan gejala-gejala yang dialami. Dari diagnosanya, aku termasuk pasien dengan gejala ringan. Dokter menganjurkan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Tidak lupa dokternya juga memberikan resep obat-obatan yang harus di minum. Saat itu aku di resepkan antivirus, beberapa jenis vitamin, paracetamol dan obat batuk. Sesi konsultasinya tidak dipungut biaya karena pada saat pembayaran di aplikasi, kita tinggal masukin kode khusus yang diberi oleh kemenkes. Sedangkan untuk penebusan obat, dilakukan terpisah di situs isoman.kemenkes.go.id. Disana kita akan diminta untuk log in dengan NIK dan mengisi beberapa data seperti alamat pengiriman, dll. Tidak lupa juga ada opsi untuk meng-upload resep obat yang telah dikasih sama dokter dari aplikasi H#alodoc tadi.

Setelah pengisian data selesai, kita tinggal tunggu saja obatnya dikirimkan oleh Kimia Farma melalui layanan ekspedisi ke tempat tinggal kita. Dalam situs Isoman itu, kita juga bisa melacak history pengiriman paket obat kita lho. Jadi menurutku, ini sangat praktis dan membantu sekali.

Memang tidak ada sesuatu yang sempurna. Masalah ternyata tetap ada. Saat itu pengiriman paket obatnya lumayan lama di ekspedisi. Kalo gak salah 3 hari an. Padahal dikirimnya sama-sama dari Jakarta. FYI saat itu ekspedisinya yaitu SiCep#t. Aku mikir mungkin memang sedang overload kali ya makanya pengirimannya lumayan lama padahal setauku pengirimannya itu harusnya Sameday. Lalu yang bikin panik adalah di history pengiriman di situs isoman, paket obatku tertulis sudah sampai jam 10 malam dan ditaruh depan pagar rumah oleh kurir SiCep#t. Berkali-kali aku memeriksa keberadaan paket obatku. Tapi tidak ada. Karena memang tidak ada pagar juga ditempat tinggalku 😂. Makanya agak panik, takutnya yang dimaksud pagar itu adalah pagar komplek karena biasanya pagar komplek itu dikunci jam 10 malam. Tapi masa iya sih pengiriman paket sampe jam 10 malam dan ditaruh di sembarang tempat ya. Akhirnya aku sempat menghubungi call center SiCep#t tapi respond nya lama karena memang kita gak dikasih tau juga nomor resi pengirimannya oleh Kimia Farma selaku pengirim obat dari Kemenkes. Lalu aku juga menghubungi call center Kimia Farma. Sama juga respond nya sangat lama karena mungkin itu tadi overload kali ya. Akhirnya aku pasrah saja menunggu sambil meminum obat-obatan seadanya yang ku punya sampai akhirnya si paket obatpun sampai. 

Paket obatnya dikemas seperti paket biasa hanya saja tidak pakai bubblewrap dan kotaknya penyok-penyok 😂. Jadi diluarnya hanya dibungkus dengan plastik bening, tertera alamat, dll. Tidak lupa ada label Sameday nya. Kotaknya kaya kotak obat dari kertas biasa dan ada tulisan Paket Telemedicine dari Kemenkes. Ada jenis paketnya juga yaitu Paket B. Kayanya sih memang sudah di custom dari sana nya ya. Ada Paket A untuk yang OTG dan Paket B untuk orang yang bergejala ringan. Kebetulan aku termasuk gejala ringan jadi dikasihnya Paket B. Berhubung paket obat itu sudah dicustom dari sananya, sesuai ekspektasi isinya pun standar saja dan tidak sama persis dengan resep obat dari dokter yang ku upload di situs Isoman. Isi dari paket B yang kuterima adalah antivirus, paracetamol, dan suplemen. Minus obat batuk. 

Semua obatnya beda merk sih dengan yang di resepkan dokter. Tapi jenisnya yaa.. masih terbilang sama lah. Jujur aku hanya ngambil antivirusnya saja karena menurutku itu yang paling penting. Anjuran dosisnya juga cukup banyak. Hari ke 1, 2x sehari 8 tablet. Hari ke 2-5, 2x sehari 3 tablet. Kalau aku beli sendiri di apotek, antivirus ini harganya cukup mahal. Makanya ini wajib aku habiskan. Kalau untuk paracetamol dan suplemen nya tidak ku pakai karena aku sudah punya paracetamol dan suplemen pribadi yang sudah biasa aku minum. Untungnya gejala batuk sudah tidak ada, jadi aku gak perlu-perlu banget obat batuk.

Tanpa terasa 10 hari isolasi mandiri telah ku lalui. Dan jujur aku tidak merasa bosan sih. Karena memang tanpa isolasi pun aku sudah jarang kemana-mana dan males keluar rumah. Me time selama itu tanpa tuntutan kerjaan tapi tetap di gaji, tentunya aku cukup senang. Karena rasa senang itu juga, kondisi badanku alhamdulillah cepet banget pulihnya. Intinya memang dibawa happy aja dan disyukuri. Kerjaanku hanya makan, tidur, nonton film, baca buku, olah raga ringan, main game, bersih-bersih, ya gitu lah..

Hari ke 11 aku menjalani tes PCR kedua dan alhamdulillah juga hasilnya sudah Negatif. Hari ke 13 aku sudah masuk kantor seperti biasa.

Begitulah pengalamanku terkena Omicron. Kalau dari segi gejala yang aku rasakan, alhamdulillahnya sih ya memang masih gejala ringan yang tidak mengharuskan untuk mendapat perawatan khusus. Kadang-kadang juga gejala itu hilang timbul. Sehari demam, sehari engga. Kalau untuk masa-masa isoman, aku enjoy saja dan memanfaatkan masa itu untuk benar-benar istirahat dan menguatkan imun. Apalagi pas hari-hari akhir isoman, gejala-gejala yang tadinya ada sudah pada hilang total sehingga aku benar-benar merasa sedang liburan saja. Ditambah banyak juga teman-teman yang support dan mengirimkan stock makanan.

Pokoknya pesan untuk teman-teman semua yang sekiranya sedang menjalani isoman, terus positif thinking aja dan yakin akan sembuh. Terus semangat dan jalani hari-hari dengan gembira dan banyak bersyukur dan berdo'a. Tidak lupa untuk teratur minum obat, vitamin, dan makan-makanan yang bergizi, serta istirahat yang cukup. 

Bagi teman-teman yang sehat, kita gak tahu kapan penyakit bisa datang menghampiri, jadi tetaplah waspada dan jaga kesehatan. Saling mengingatkan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Jangan sampai ada keinginan terkena Covid-19 agar bisa isoman deh. Karena kita gak tahu kalau misal terkena Covid-19 itu gejalanya akan bagaimana di tubuh orang yang berbeda. Ya syukur-syukur kalau gejalanya ringan, kalau gejalanya berat kan bahaya juga. Pokonya jangan mau sakit deh intinya.

Sekian cerita pengalamanku kali ini, semoga ada manfaat yang bisa dipetik. Mohon maaf kalau ada salah-salah kata dan terimakasih sudah mampir di blog ku ini. 

Sampai jumpa~



Friday, August 30, 2019

Pengalaman Operasi Sinusitis dan Pasang Grommet



Halo-halo..

Apa kabarnya nih? Lama tak bersua ya..jadi kikuk deh perasaan..hehe

Mohon maaf nih aku baru nongol lagi setelah sekian abad gak ngongol2 *lebay. It’s been soo hard for me latelly. Tapi sekarang aku siap untuk berbagi pengalaman yang moga-moga aja bisa membantu yang sedang cari-cari informasi.

Well, beneran deh ini.. aku bikin tulisan jadi rada kikuk gini. Entah kenapa haha. Efek kelamaan absen kali yaa.. Kali ini aku mau cerita pengalamanku yang sesuai dengan judul yaitu operasi sinusitis dan pasang grommet yang aku jalani bulan Juni 2019 lalu.

Sebelum lebih jauh, mungkin kalian ada yang belum tau apa itu Sinusitis dan Grommet. Sinusitis itu peradangan yang terjadi di saluran sinus yg intinya berhubungan sama saluran dalam hidung. Kalau grommet, atau kata lainnya pipa Timpanostomi adalah semacam alat kecil berbentuk pipa yang dipasang di dalam gendang telinga yang di sayat kecil dan berfungsi untuk memberi ventilasi antara telinga luar dan telinga tengah agar tekanan udaranya seimbang dan juga untuk mengeluarkan apabila ada cairan yang terjebak di telinga tengah.. 

Anggap aja kali ini aku jadi dokter THT abal-abal yg sok tau ya wkwk. Jadi telinga kita itu ada tiga bagian: telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Posisi gendang telinga itu ada di perbatasan antara telinga luar dan telinga tengah. Kalo temen-temen suka ngorek2 kuping pake cotton bud untuk membersihkan kotoran telinga, itu itungannya masih dalam area telinga luar ya.. bagian yang emang terbuka langsung dengan lubang telinga, daun telinga dan tentunya udara bebas. Nah dibalik gendang telinga, ada telinga bagian tengah dan disini ada yang namanya saluran Eustachius, yaitu saluran yang menghubungkan antara telinga bagian tengah dengan rongga belakang hidung atau saluran sinus. Makanya ada istilah THT- KL: Telinga, Hidung, Tenggorokan – Kepala, Leher. Sambung menyambung menjadi satu itulah indonesia *kok jadi nyanyi Sabang sampai Merauke :V weeew

Sampe disini udah ada gambaran kan ya?

Nah, namanya juga manusia, kita tidak terlepas dari adanya berbagai kondisi yang tak diharapkan. Disini aku mau share tentang yang namanya Otitis media atau radang telinga tengah. Inilah yang menyebabkanku harus pasang grommet
- - -

Flash back ke belakang. Saat itu aku sekeluarga lagi mudik lebaran Idul fitri ke Bogor, tiba-tiba pas di perjalanan di dalam mobil, kuping kiri ku ngerasa bindeng dan agak sakit gitu pas telinganya ditekan. Pernah gak sih kalian kalau lagi lama di dalam mobil terus ngerasain bindeng2 dan kaya budeg gitu karena tekanan udara? Biasanya kalo kita nguap, bindengnya ilang. Kalo pernah, ya kaya gitu awal mulanya. Tapi kalo gak pernah ya pokonya bayangin aja deh gimana rasanya bindeng kalo lagi flu. Cuman pada saat itu aku ngerasain rasa sakit juga kalo telinganya ditekan. Tapi aku abaikan karena ku pikir mungkin nanti juga bakal hilang sendiri kalau sudah turun dari mobil. Singkat cerita, setelah beberapa hari, rasa sakit di telinga kiriku itu emang hilang tapi malah berganti jadi kaya telinga kemasukan air. Mirip-mirip kalau kita habis bernang. Kalo berbicara, suara tuh seperti menggema di dalam telinga. Berhubung gejala ini gak ilang-ilang, akhirnya setelah aku pulang ke Jakarta, aku periksa ke dokter. Saat itu aku belum tau jadwal dokter THTnya jadi periksa ke dokter umum. Dokternya neropong telinga aku pake Otoskop. Hasilnya adalah ada radang di telinga aku karena dibagian gendang telinganya itu agak bengkak dan merah katanya. Aku dikasih obat dan antibiotik. Seminggu berlalu, gejala bindeng dan sakit udah mulai mendingan tapi aku masih penasaran apakah sudah sembuh total atau belum. Akhirnya aku buat reservasi dengan dokter spesialis THT.

Tibalah hari pemeriksaan. Awalnya telinga aku di teropong lagi pakai otoskop dan ya sama kaya apa yang dikatakan dokter umum sebelumnya, ternyata telingaku terkena infeksi dan itu belum sembuh total. Cuman lebih spesifik disebutkan namanya adalah Otitis Media Akut. Otitis media itu ada yang akut dan ada yang kronik, kalau yang akut itu artinya otitis media yang terjadi secara tiba-tiba. Atau belum lama terjangkit. Kalau yang kronik setau aku itu kondisi yang udah lebih parah dan sudah lama kali ya. Ah gatau juga deh takut salah jelasin.

Terus aku diperiksa pake alat Timpanometri. Bentuknya kaya mesin yang ada headset kecilnya buat mendeteksi gelombang dengar. Dan setelah beres, akan ada semacam Print out gelombang dengar telinga kita. Hasilnya saat itu pendengaran telinga kanan ku normal. Gelombang suaranya naik turun. Tapi telinga kiriku pendengarannya datar. Dalam hal ini karena emang saluran dengarku tertutup akibat adanya semacam cairan di belakang gendang telinga. Kata dokter THT cairannya itu lengket ibarat lem, biasa disebut Glue Ear. Glue ear ini terbentuk dari lendir-lendir jaringan telinga tengah akibat pembengkakan saluran Eustachius. Pokonya gitu deh singkatnya.

Alhasil hidungku pun turut diperiksa dan ternyata memang ada pembengkakan jaringan sinus. FYI pembengkakan di saluran sinusku itu akibat Rhinitis alergi. Jadi memang pada dasarnya beberapa bulan ke belakang, bahkan udah lama sih kayanya tiap pagi-pagi atau kena udara dingin, aku suka bersin-bersin terus. Dan jadi anak ingusan (-,-)’ Tapi kalo udah siang dan terkena panas biasanya sembuh sendiri. Ternyata itu adalah Rhinitis alergi dingin dan lama kelamaan bikin jaringan sinusku bengkak.

Dokter menyarankan 2 tahap solusi dalam kasusku ini. Pertama, aku harus operasi pasang grommet buat ngeluarin cairan yang di telinga tengah. Karena kalau cairannya tidak dikeluarkan, akan beresiko tuli permanen katanya *ngeri bgt kan. Kedua, aku harus operasi pengangkatan jaringan sinus yang bengkak dengan metode Operasi Fess. Karena kalau jaringan sinus yang bengkak ini gak diangkat, kemungkinan nanti-natinya bakal terulang kejadian yang sama lagi. Dan fyi buat operasinya itu akan dibius total. Tapi sebelum menuju operasi itu, aku masih dikasih obat selama satu minggu dan sempet ronsen kepala juga. *ngeri deh liat tengkorak sendiri :’( 

Ada satu pertanyaan dokter dari hasil ronsen dibagian hidung, “kamu pernah patah hidung?” Hah?? Aku kaget, kayanya gak pernah deh. Selama ini kayanya aku gak pernah ngalamin hal-hal aneh dibagian hidung. Dokter menunjuk gambar ronsenku kaya ada patahan gitu daerah hidung tapi ya entahlah apa itu bawaan lahir atau emang pernah kecelakaan yang aku lupakan. Pokonya ada bagian yang entah apa aku lupa intinya tulang dalam hidung kanan dan kiri beda sebelah.

Seminggu berlalu, aku check up lagi ke dokter THT, dan hasilnya aku disarankan untuk operasi. Takut sih, tapi daripada aku tuli permanen, lebih baik aku ‘usaha’ untuk kesembuhan diriku sendiri. Mamah sempet ngajak buat berobat alternatif dulu sebelum operasi tapi aku kaya udah termakan omongan dokter jadinya aku iya-in untuk menjalani operasi.
 
Tibalah hari operasi yang sudah di jadwalkan. Saat itu kaya semua terjadi begitu saja dan bahkan aku belum faham apa2 tentang operasi. Aku cuti kerja dan dari pagi aku udah ke RS ngurusin administrasi asuransi yang lamaaaa banget nunggu approval yang akhirnya masih belum juga di approve. Tapi berhubung udah kelamaan nunggu akhirnya aku menandatangani surat pernyataan untuk bayar biaya sendiri kalau seandainya nanti asuransi tidak di setujui. FYI itu biaya keseluruhan sekitar 34jt lebih :”( Biaya dua tindakan operasi dan satu malam rawat inap kelas 2 di RS daerah Bintaro.

Sebelum operasi, ternyata kita juga diharuskan untuk mengikuti prosedur pra operasi. Yaitu cek lab darah dan urine, cek dokter umum, bla bla bla… Panjang deh rangkaiannya. Kesana kemari. Antri ini antri itu. Nunggu sini nunggu situ. Yang jelas tadinya operasi jadwal jam 4 sore, baru terlaksana abis magrib. Dan aku juga dari siang sudah disarankan untuk puasa. Padahal aku niatnya pengen beli kfc samping RS :/

Saat itu aku dianter Bubu, sahabatku dari jaman kuliah. Karena kebetulan Bubu lagi libur kerja. Aku gak minta ditemenin ortu, soalnya gamau repotin, mereka jauh soalnya. Aku maksa bilang ke ortu, untuk ga usah dateng hehe. Kalo Bubu sih udah biasa aku repotin wkwkwk… (^^)v peace Bu.. and thank you so much yak!!

Tibalah aku dipanggil ke sebuah ruangan. Aku dikasih penutup kepala dan baju operasi yang kalian tau lah ya mirip-mirip apron gitu ada talinya di belakang dan aku cuma pake celana dalem doang. *husss ga usah dibayangin!

Setelah beres ganti baju, barang bawaan aku titipin Bubu dan aku masuk ke ruang bedah dianter suster. Bubu nunggu diruang tunggu. Suer deg deg an bangettt :(:’( yang selama ini aku biasa liat di TV, sekarang malah aku alamin sendiri. Di ruang bedah udah ada beberapa suster yang pada sibuk nyiapin alat2 bedah dengan memakai seragam yg sama dan pada pake masker. Jadi gak keliatan deh muka-mukanya. Lalu aku disuruh tiduran di kasur operasi yang ukurannya bener2 buat sebadan kita aja. Kecil. Dan akupun dipasang jarum infus dan kabel-kabel di dada buat monitoring detak jantung. Mulai deh ku dengar suara monitor detak jantungku yang naik turun. Aku cuma liat keatas, liat lampu operasi, dan baca-baca do’a. Takut banget ya tuhan... Dingin rasanya. Aku lihat dokter THT ku masuk ruang operasi dan langsung siap-siap. Terus ada juga dokter lain yang dateng memperkenalkan diri dengan ramah..

“Hai ki.. nama saya dr.Andy (nama samaran). Saya dokter anestesi (dokter bius).
  Kamu sebelumnya udah pernah operasi belum?”

“Belum pernah dok. Saya takut. Ini gak bakal kenapa-kenapa kan?”

“Ohh, jadi ini baru pertama kali yaa..? “ (si dokter blm ngejawab pertanyaanku :v)

“Iya, semoga pertama dan terakhir deh dok” jawabku.

“Hehe gak apa-apa ko kaya tidur biasa aja ki. Saya mulai anestesinya ya”

Lalu kayanya si dokter menyuntikan cairan anestesi lewat selang infus ditanganku. Aku cuma liat lurus aja keatas, melihat lampu operasi dan masih baca-baca do’a. Eh tiba-tiba gak lama kemudian, kepalaku kaya keliyengan gitu. Aneh, badan serasa naik turun di atas Roller coaster. Mata mulai berat dan ngantuk. Dalam hati aku bergumam cepet banget ya ternyata reaksi biusnya. Teler amaddd aku ini. Kukira aku bakal susah dibius Hahaha. Gak sampe semenit kayanya. Abis itu blank...... sama sekali gak inget apa-apa….....

- - - - - - - - -

Pas sadar aku udah di ruangan yang berbeda dan aku dengar samar-samar susternya bilang “Mas, sudah selesai ya operasinya”. Lalu aku perlahan buka mata kaya abis tidur gitu tapi badan menggigil banget. Dingiiiiiiin banget sampe gemeteran seluruh badan (mungkin efek bius itu kali ya). Dan ada seorang suster yang masangin semacam alat penghangat (patient warmer) kedalam selimutku dan aaah… nyaman banget rasanya.. anget.. tapi badan lemes dan hauuusssss parah. Dan ya tentunya aku udah pindah kasur dan dipakein selimut sebelum aku sadar. Aku lihat ada si Bubu lagi duduk di kursi samping dan aku bilang sama Bubu kalau aku haus banget pengen minum. Tapi kata susternya belum boleh minum. Akhirnya aku cuma bisa diem dan nelen ludah. Abis itu aku dibawa ke ruangan rawat inap. Sepanjang jalan aku liat orang-orang ngelihatin aku yang terkulai dikasur yang di derek suster2. Setelah sampai ruang rawat inap, barulah aku dikasih minum. Aku nanya sama Bubu berapa lama sih tadi operasinya. Bubu bilang sekitar satu jam setengah. Padahal aku kaya ngerasa tidur 5 menit doang lho. Suer. Dan itu gak inget apa-apa, gak ada mimpi sama sekali. Blank aja pokonya. FYI aku gak ngerasain sakit juga udahannya. Hanya saja memang aku sadar kalau dari hidung sama telinga aku masih keluar darah dan ditutup sama tampon. Disitu aku juga dikasih toples kecil berisikan jaringan sinusku yang udah dipotong. Ngeri sih tapi aku simpan buat kenang-kenangan deh.

Malemnya setelah operasi, aku udah bisa duduk tapi darah keluar terus dari hidung kiri, jadi aku bersihin terus pake tissue. Setelah itu aku tidur lagi dan Bubu kayanya tidur di mushala. Kasian Bubu.
Besok pagi nya, barulah aku dikasih sarapan. Dan suster bilang kemungkinan hari itu aku udah bisa pulang :O padahal darah aku masih ngalir dari hidung lhooo. Dalam hati aku bergumam“ ini beneran aku udah bisa pulang???”

Bubu masih setia menemani hehe. Disini aku ngerasa bersyukur banget punya sahabat yang baik dan mau direpotin. Lalu dateng juga Mey Mey, sahabatku yang lain turut nemenin aku di RS. Dan dateng juga rekan-rekan kantorku. Mereka menjenguk dan bawain buah-buahan dan makanan. Terimakasih banyak semuanya (/\) semoga tuhan membalas kebaikan kalian semua. Amiin.. YRA

Setelah jam kunjungan selesai, aku kembali cuma di temani Bubu, dokter THT ku datang untuk mengecek, dia bilang nanti check up 2 minggu kemudian. Dan aku emang saat itu udah dibolehin pulang. FYI katanya grommet di telingaku itu sebenernya bisa lepas dengan sendirinya kalau emang udah sehat gendang telinganya. Terus aku nunggu proses administrasi asuransi yang lamanya minta ampun. Seharian gak kelar2. Yang harusnya aku udah bisa pulang siang hari, aku masih nunggu approval asuransi sampe jam 11 malem dong. Dan itu aku harus keluar RS karena saat pendaftaran, aku cuman dihitung buat rawat inap semalem aja. Kalo aku gak keluar RS malem itu, aku nanti harus bayar kamar lagi dan lama lagi ngajuin proses asuransinya. Akhirnya ada juga approval dari Asuransi itu sekitar jam 12 malem. Aku juga udah lepas infusan. Lalu beres2 mau pulang dan menuju loket administrasi. Disitu aku dikasih tagihan yang ternyata approval asuransiku gak full cover karena mungkin udah over limit kali. Shocked. Jadi sisanya aku mesti bayar sendiri sekitar 10jt-an lebih :’”( sad....

Habis ludes uang tabunganku. Tapi mau gimana lagi kan.. masa mau kabur dan gak bayar? Setelah pembayaran selesai, aku order grab car buat pulang bareng Bubu. Karena udah malem juga, Bubu akhirnya ikut nginep di tempatku. Karena kalau pulang ke rumahnya, dia harus naik KRL dan mana ada kereta jam 12 malam.

Beberapa minggu berlalu, pendengaranku udah biasa aja. Walaupun si grommet, sampai detik ini aku nulis masih betah ada di dalem telinga. Belum lepas. Paling kalo lagi sujud pas sholat kadang suka ada bunyi krek-krek gitu di dalem telinganya. Aku juga check up tiap dua minggu sekali dan kata dokter emang grommetnya masih tetap dipertahanin karena dia bakal lepas sendiri kalo emang beneran udah sembuh total. Awal-awal aku juga masih sering keluar darah dari hidung tapi lama kelamaan sembuh sendiri. Aku juga dikasih obat semprot hidung, tetes telinga, dan cairan Nacl buat cuci hidung. Sekarang tiap pagi, aku gak jadi anak ingusan lagi dong.. Alhamdulillah…..

Mungkin sekian dulu curcol kali ini. Nanti aku cerita lagi deh kalo grommetnya udah di lepas atau lepas dengan sendirinya. Mudah-mudahan sih segera lepas sendiri yaa (/\)

See you guys. Terimakasih sudah membaca.

Baca Juga:  Cerita Lanjutan Pasang Grommet

Galeri foto (kalo ngeri, di skip aja ya):


Penampakan Grommet di gambar kiri atas.
Masih ada flek darah di pinggirannya. Dan masih ada cairan di belakang gendang telinga

Saat masih belum sadarkan diri di foto sama Bubu.
Di gambar kiri terlihat mesin penghangat yg ada selang gede nya itu





Wednesday, July 18, 2018

Pengalaman Di Infus


Kalo berbicara tentang “di infus”, biasanya identik sama opname atau rawat inap. Dan kalo sampe udah ngeharusin di infus, itu artinya orang tsb memang membutuhkan asupan cairan tambahan atau obat di tubuhnya.

Sampai dengan tulisan ini kubuat, aku udah 3 kali ngalamin di infus. Pertama saat masih kecil, saking masih kecilnya akupun tidak terlalu ingat. Hanya diceritain sama ortu kalo aku dulu pernah step kejang-kejang gitu sampe ngeharusin di infus. Kedua, pas aku kelas satu SMA. Waktu itu aku sakit berhari-hari di asrama hingga akhirnya aku dibawa pulang sama keluarga dan dibawa ke unit kesehatan. Dan ujung-ujungnya aku diharuskan pasang infus. Awalnya dokter mengira aku kena DBD tapi setelah hasil pemeriksaan keluar, aku ternyata terkena gejala tipes.
 
Disinilah pertama kali aku bener-bener ngerasain gimana itu rasanya di infus. Awalnya tanganku di iket dulu gitu pake alat semacam karet penahan aliran darah, terus di oles alkohol dikit di permukaan kulit yang mau di tusuk jarum. Dan.. yaaa rasanya di infus itu sama kaya di suntik biasa pake jarum. Bedanya jarumnya terus nancleb di situ alias gak langsung di lepas kaya di suntik biasa. Hehe. Jarum suntikan tsb udah tersambung sama selang dan botol yang berisi cairan infusan. Sebenernya untuk komposisi cairan infusnya sendiri aku kurang faham, tapi setauku dia mengandung natrium klorida yang berfungsi untuk mengembalikan keseimbangan cairan tubuh yang hilang. Nah, setelah setelah jarum masuk disuntikan, barulah dipasang perekat/sticker biar jarumnya gak gerak-gerak dan terus nempel dengan posisi yang sama. Sebenernya yang ngeri sih emang pas masukin jarumnya itu lho. Kalo pas jarumnya udah masuk sih rasanya adem karena cairan infus udah mulai ngalir ke dalam aliran pembuluh darah kita. Btw biasanya bagian yang kena infus suka agak bengkak dikit tapi gak sakit. Waktu itu tanganku jadi kaya besar sebelah hehe.

Ada satu pengalaman waktu aku di infus jaman SMA itu, sekitar jam 1 malem lagi tidur, tiba-tiba aku ngerasain nyut nyutan di tanganku yang di pasang infus. Pas aku bangun dan buka mata, aku udah liat darahku ke sedot infusan dan naik terus ke atas menuju si botol infusannya. Jadi ternyata kalo cairan infusnya habis, darah kita malah bakal ke sedot menuju botol infus yang kosong tsb. Kecuali kalo puteran penahan selangnya di eratkan. Tapi waktu itu aku belum ngerti dan panik banget liat darah udah ngalir keatas hampir sampe di botol infusan. Apalagi aku emang agak ngeri kalo liat darah.

Saat itu jagain ada bapak. Aku gak tega mau bangunin bapak yang lagi tidur. Pokonya aku orangnya segan banget kalo sama ortu. Gamau nyusahin ceritanya. Akhirnya aku bangun sendiri pelan-pelan karena emang masih kuat untuk berjalan. Terus aku keluar ruangan dan jalan lewatin koridor yang kosong buat nyari suster sambil pegang infusan yang berisi darah. Horror juga sih ya wkwk. (Btw tempatku dirawat saat itu kayanya ga ada tombol buat manggil suster. Atau mungkin aku nya aja yang gak tau ya wkwk)

Saat aku jalan-jalan lewatin koridor, aku nemuin satu ruangan yang ada suara TVnya. Tanpa pikir panjang aku langsung masuk kesitu dan ternyata emang ruang perawat. Disana ada dua orang suster yang lagi tertidur di meja dengan TV menyala. Aku colek tangan si suster dan nunjukin infusan aku tanpa ngomong apa-apa. Wkwkwk. Susternya langsung kaget dong dan buru-buru meraih selang infusanku sambil nyari-nyari botol infus yang baru. Dia juga melintirin selang infusanku yang ada darahnya biar cair lagi dan gak beku dalam selang. Beberapa menit dia melintir-melintir selang infusan agar darahnya kebawa ngalir lagi masuk ke tanganku. Agak ngilu juga rasanya karena jarum infusannya ikut ke gerak-gerak kali ya. Tapi akhirnya proses itu kelar juga dan infusan kembali normal. Akupun dianter balik ke ruanganku. Disana bapak udah bangun dan katanya nyari-nyari aku dari tadi. hehe Pasien yang hilang... Lol

## Pengalaman di infus ketiga, baru banget kejadian minggu lalu.
Awalnya aku gak enak badan  kaya flu gitu. Demam, pusing, mual-mual kaya masuk angin. Akhirnya hari senin (2/7) aku pergi memeriksakan diri ke Puskesmas. Dikasih antibiotik, vitamin, paracetamol sama obat flu. Flu nya sebenernya kaya alergi gitu soalnya dia muncul kalo aku lagi kedinginan aja. Singkat cerita sampe hari kamis (5/7) semua gejala sakitnya udah hilang. Udah lumayan seger. Eh besok Jum’at-nya (8/7) pagi-pagi perut berasa kembung, mual, pusing, dan pegel linu. Aku nganggepnya masuk angin kali ya dan minum tolak angin sama minta temen kantor buat ngusapin kayu putih di punggung. Saat itu lumayan agak enakan, tapi akhirnya hari sabtu (9/7) gejalanya jadi berubah ke sakit tenggorokan. Aku susah banget buat nelen makanan. Jangankan makanan dan minuman, nelen ludah aja perih banget. Kayanya radang sih pikirku. Tapi ko beda banget sama radang yang biasa aku alamin kalo mau flu. Akhirnya aku coba buka mulut depan kaca sambil di senterin ke tenggorokan. Dan kaget banget baru kali ini liat di tenggorokan banyak sariawannya. Diatas, kanan, kiri, dibawah lidah, di gusi juga. Ya tuhan.. pantesan perih banget kalo nelen makanan. Aku istirahat sabtu-minggu. Cuman makan bubur polos dua sendokan terus minum paracetamol sama kumur-kumur air garem. Ngefek tapi cuman dikit. Tetep aja sakit dan masalahnya jadi susah banget makan dan minum. Perih bangetttttt. Nunggu senin buat periksa lagi ke puskesmas. Soalnya puskesmas tutup kalo weekend. Dan aku juga biar gratis pake BPJS cuman bisa ke puskesmas. Tibalah hari senin (9/7) aku cuti kerja dan pergi ke puskesmas. Aku bilang sama dokternya kalo baru minggu lalu aku kesini. Dan dokternya bilang karena aku mungkin makan sembarangan sama imun lagi lemah, jadilah sakit lagi. Dan dokter cuman ngasih vitamin sama paracetamol dong. Gak dikasih antibiotik karena baru minggu kemarinnya dikasih antibiotik. Mungkin dosisnya terlalu dekat jaraknya gak baik juga. Cuman ya efeknya radang aku susah sembuhnya. Ibaratnya ni radang ditunggu biar sembuh sendiri. Padahal aku ke ganggu banget sama ini radang. Pokonya bener-bener kesiksa banget.

Hari selasa (10/7) aku masuk kerja dengan radang yang masih ngeganggu. Makan bubur polos seporsi buat seharian. Gabisa nelen yang aneh-aneh pokonya. Itu aja butuh perjuangan. Rasanya haus banget tapi kalo minum perihnya lebih perih daripada nelen bubur. Pulang kerja karena aku gak tahan, akhirnya aku pergi ke RS buat periksa. Aku gak puas soalnya sama hasil puskesmas. Akhirnya dikasih obat sama dokter dan ada antibiotiknya. Dia bilang juga buat banyakin minum karena takutnya aku kena gejala tipes. Kalo dalam dua hari masih sakit, dianjurin buat periksa lab. Akhirnya aku coba dulu buat terapi obat yang dikasih. Hari rabu dan kamis cuti kerja buat istirahat. Pas kamis malem, abis minum obat aku ngerasa mual banget dan berdebar-debar. Aku coba tenangin diri dan nyoba dibawa tidur berkali-kali tetep ga bisa. Hingga akhirnya jam 12an aku gak kuat lagi nahan akhirnya order gojek sendiri buat ke UGD. Pas udah nyampe disana mualku malah ilang. Bingung juga mau bilang apa sama dokter. Lol. Cuman aku kepikiran aja karena kurang asupan cairan dan susah makan berhari-hari karena radang, badan lemas juga. Aku minta sendiri sama dokternya buat di infus. Seengganya aku mikir bisa ada cairan masuk kedalam tubuh dan gak melalui mulut untuk mengurangi penderitaanku :( Aku juga minta dirawat inap aja sekalian biar di cover asuransi. Soalnya waktu itu asuransiku hanya cover rawat inap aja. Sekalian nunggu proses administrasi, aku disuruh buat milih kamar. Kocak gak sih pas milih kamar, terjadi percakapan gini:

“ini yang mau pilih kamar ya?”
"iya"
“pasiennya dimana?”
"aku sendiri" Wkwkwk.

Miriiis.. kagak ada siapapun yang nganter. Maklum anak kosan. Tetangga kosan juga gak ada yang deket banget. Dan selama emang masih bisa dilakuin sendiri, why not? Mandiri bgt ye kan.wkwk

Setelah milih kamar, aku balik lagi ke ruang UGD buat di pasang infus. Akupun dipasangin infusan sama seorang perawat cowok, ya kurang lebih sama sih cara masang infusnya kaya yang waktu itu. Perawatnya bilang "tenang ya, gak sakit ko". Aku sih udah tenang, tapi tetep merem. Gak mau liat jarumnya. Ngeri. haha. Dan secepat kilat itu infusan udah terpasang. Baru tau sih infusan dipasangnya di punggung tangan. Dulu pas di infus zaman SMA itu dipasangnya di samping pergelangan tangan. Mungkin sama aja kali ya. Yang penting dicari aliran pembuluh darahnya.

Setelah infusan terpasang, aku dianter pake kursi roda sama perawatnya menuju kamar yang tadi udah aku pilih. Disitu aku bisa istirahat deh. Berhubung asuransinya waktu itu biasa aja. Rawat inapku cuma di cover di kelas 3. Sekamar bisa sampe 6 pasien. Tapi yang ada waktu itu cuman 3 pasien sama aku. Jadi gak terlalu crowded dan gak terlalu sepi. Orang-orangnya juga baik-baik. Aku gak ngerasa keganggu. Malah nyaman aja istirahat di RS. Segini juga udah sangat membantu. Yaa meskipun ada satu pasien yang berisik muntah-muntah terus gara-gara keracunan jengkol katanya (.___.)

Tapi terlepas dari siksaan sakit tenggorokan yang awet banget, sebenernya istirahat di RS itu cukup enak. Bebas gangguan kerjaan, asupan cairan tubuh cukup terjamin dengan infusan, kegiatannya cuman tidur, tidur dan tidur. Makan dikasih pula tepat waktu. Beda kalo istirahat dikosan harus nyari makan sendiri kan. Belum lagi asupan cairan tubuh yang kurang, waktu makan yg gak teratur dan malah harus keluar rumah beli sendiri. Makin kurus kering dah. Tapi ya namanya di RS tetep aja gak bisa disamain kaya hotel dong ya. Toh bukan liburan juga. Cuman menurutku pilihan rawat inap itu gak buruk-buruk amat. Meskipun selama rawat inap kali ini aku gak ada yang jagain. Alias sendirian. Hiks. Haha. Aku emang bilang sama ortu kalo aku rawat inap setelah sebelumnya 2 harian aku gak bilang apa-apa. Niatnya sih pengen gak bilang sama sekali tapi insting si mamah yang nebak aku lagi sakit, akhirnya aku bilang juga deh. Cuman aku tegasin kalo ortu ga usah jauh-jauh ke Jakarta, sayang ongkos dan buang-buang waktu. Toh aku juga masih sanggup ngapa-ngapain sendiri. Dari mulai makan dan ke toilet aku bisa sendiri (Pasien Mandiri) LOL. Berkali-kali ortu dengan khawatir mastiin lagi dan lagi dan berkali-kali juga aku tegasin kalo aku akan baik-baik saja. Kalo ada ortu, justru aku malah ngerasa ke bebani. Ke bebani disini bukan karena mereka nyusahin atau apa. Tapi karena mereka kan juga punya aktifitas sendiri, aku gamau ganggu. Gamau ngerepotin siapapunlah intinya. Lagipula beberapa temen dan rekan kantor juga ada yang jengukin kadang-kadang. Udah lebih dari cukup sih.

Besok pagi hari jumatnya (13/7) aku diperiksa dokter dan dikasih antibiotik yang di infuskan berkala. Tapi radangnya awet banget sumpah. Sampe akhirnya diserahin ke spesialis THT. Sama dokter THT, aku diperiksa tapi dia gak jelasin juga ini penyakit apa. Yang ku denger dia bilang ini radang akibat panas. Terus ngasih resep obat deh sama susternya dan aku dikasih obat kumur-kumur juga. Aku dirawat sampe hari Senin (16/7). Untungnya si radangnya udah mulai menghilang di hari minggu. Dan infusan dicopot hari minggu pula. Hari-hari terakhir udah much better. Akhirnya aku bisa nelen makanan dan minuman dengan normal. Makanan yang dikasih dari RS udah bisa aku abisin semua dan ternyata rasanya enak Hahaha. Siang hari seninnya aku diambil darah lagi untuk cek lab. Dan setelah hasilnya keluar dari lab dengan hasil bagus, aku dibolehin pulang dan mengurus administrasi. Aku agak deg-degan pas diruang administrasi. Takut ada yang gak di cover asuransi. Tapi alhamdulillah sebagian besar di cover. Hanya biaya materai dan katanya biaya kunjungan yang ditotal Rp.31.000 yang gak di cover dan harus ku bayar. 

Awalnya aku mau pulang sendiri order gocar. Agak rempong emang soalnya banyak makanan yang aku dapet pas kunjungan temen-temen. Gak bisa kuabisin di RS kan. Untungnya ada temen kantor yang nawarin buat ngejemput. Thank god dijemput sama temen-temen kantor. Dianter sampe kosan. Hari selasa (17/7) aku masih izin istirahat. Dan alhamdulillah hari rabu ini (18/7) aku udah masuk kantor dan bisa nulis artikel ini~~

Terimakasih sudah membaca..
Sehat selalu ya teman-teman :)